Lama Sebentarnya Pacaran Nggak Ngejamin!

Tak perlu menyesali diri kala perkawinan kita hanya bertahan seumur jagung. Cobalah kaji kembali, apa saja kesalahan yang kita lakukan sebelum memutuskan untuk menikah.

BELAKANGAN sering terdengar kisah-kisah rumah tangga yang hanya bertahan seumur jagung. Padahal, tak sedikit di antara mereka yang sudah menjalani masa pacaran sekian lama. Tapi seperti diutarakan psikolog Zainoel Biran alias Bang Noel, lama-sebentarnya masa pacaran, sama sekali tak bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan atau kegagalan perkawinan. “Yang lebih penting, justru seberapa efektif kedua belah pihak menghayati pacaran sebagai masa untuk mencoba saling mengenal lebih baik secara person to person.”

Dengan kata lain, kita tak cuma kenal pasangan sebagai pribadi secara lahiriah, tapi juga peran-peran yang bisa dimainkan oleh kedua belah pihak. “Jadi, ada semacam pengharapan. Sementara bagaimana pengharapan itu bisa tersampaikan dan menjadi kesepakatan bersama, merupakan proses panjang yang harus dipelajari terus menerus,” ungkapnya.

Harapan-harapan tersebut mungkin saja tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Toh, dalam hubungan suami-istri, “Pasti akan ada perbedaan-perbedaan yang bakal muncul. Itulah yang mesti senantiasa dijembatani. Bisakah perbedaan-perbedaan tadi dipertautkan bahkan diterima, hingga tidak menjadi batu sandungan bagi mereka. Sementara untuk menghilangkannya jelas mustahil, dong.” Dengan begitu, harus dipilah-pilah, apakah perbedaan tersebut esensial atau tidak.

Cuma Berubah Sesaat

Soal selera dan kebiasaan makan, contohnya. Yang satu terlihat lahap menggunakan tangan sementara lainnya justru jijik namun hanya memendamnya karena tak ingin menyinggung perasaan pasangan. Padahal, apa pun bentuk penilaian tersebut, kata Bang Noel, tetap harus dikemukakan. Tentu saja bukan dengan sikap atau kalimat kasar. “Sampaikan bahwa kita tidak suka dengan cara makannya dan bukan pribadinya. Toh, kalau cuma cara makan barangkali bisa diperbaiki. Sementara pihak yang dikritik pun sah-sah saja mempertanyakan, ‘Kenapa, sih, diributin, dari dulu aku, kan, makannya begini.’”

Namun kalau ingin membangun relasi, tetap dibutuhkan kesediaan untuk saling menyesuaikan diri. Termasuk kesediaan belajar makan secara santun dengan tidak berbunyi atau menghilangkan hal-hal lain yang dirasa menjijikkan pasangan tadi. “Bisa jadi juga, berubah cuma sesaat demi menyenangkan pacar. Begitu sudah kawin, kembali ke aslinya.”

Seharusnya, lanjut Bang Noel, penyesuaian diri kedua belah pihak bukan sesuatu yang bersifat sesaat untuk memikat atau mendapatkan cinta pasangan. “Justru harus dipertanyakan niat yang bersangkutan. Mau sekadar dapat perhatian cinta atau mempertahankan sekaligus melanjutkan hubungan lebih jauh?”

Tanggalkan Topeng

Banyak, memang, pasangan yang gagal menjaga keutuhan rumah tangga meski sudah pacaran lama. Sehingga timbul pertanyaan, “Jadi, selama itu mereka ngapain aja?” Jawabannya, mungkin mereka hanya sibuk bicara yang “manis-manis” saja alias yang ada di permukaan. Sementara untuk hal-hal yang bersifat mendalam, justru enggan digali lebih jauh.

Alasannya, kalau bicara masalah yang tak enak, jangan-jangan malah ditolak. Jadilah mereka terbiasa mengenakan topeng-topeng untuk membangun impresi. Lantas kapan seseorang boleh pakai topeng dan kapan harus melepaskannya? Lagi-lagi,tegas Bang Noel, tergantung pada orientasi dan makna yang diberikan individu yang terlibat. Apakah sebatas jalan dan omong-omong kosong belaka atau mengharapkan ikatan lebih mendalam di antara mereka. Bukan tidak mungkin pula sebatas menuruti desakan dari lingkungan karena takut dianggap bujang lapuk atau orang tua yang ingin segera menimang cucu, misalnya.

Selama seseorang mengenakan topeng, berarti selama itu pula ia belum memiliki kepercayaan pada pasangan. Di hati kecilnya pasti terselip kekhawatiran, suatu saat bakal dikecewakan atau tak diterima sepenuhnya. Padahal, kebiasaan mengenakan topeng membuat kita jadi tidak cukup sensitif untuk mengenal pasangan. Bisa juga karena niatnya memang tidak tulus untuk membangun suatu relasi. Semisal niat untuk morotin, ajang balas dendam, mencari popularitas yang bisa memberinya kebanggaan tersendiri atau motivasi lainnya.

Kendati harus diakui jika tiap orang memiliki kecenderungan untuk menutupi kelemahannya dengan selalu menjaga impresi yang serba baik dan positif lewat penggunaan topeng-topeng tadi. Bukankah dengan membangun kesan positif, yang bersangkutan akan lebih mudah dipercaya orang lain?

Karena itulah, saran Bang Noel, amat penting bagi siapa pun untuk menguji seberapa jauh ia benar-benar mengenal pasangan sebelum mengambil keputusan untuk menikah. “Dia benar-benar seperti dia sekarang ini atau tidak?” Caranya bisa berupa feedback dari orang-orang yang mengenalnya ataupun melalui kejadian sehari-hari. “Suatu saat pasti ada, kok, momen-momen khusus ia lepas dari topengnya.”

Kualitas Pengenalan

Selain itu, boleh jadi selama tenggang waktu pacaran yang lama tadi memang tidak terpikirkan niat untuk berumah tangga. Kalaupun mereka akhirnya menikah, misalnya, itu lebih karena suatu saat terbetik pikiran, “Kayaknya kita sudah lama pacaran, nih.” Hingga motivasi mereka berumah tangga tak lain keterpaksaan akibat terbebani oleh lamanya hubungan tadi atau alasan lain. Yang jelas, bukan lantaran ingin membangun hubungan yang langgeng.

Menurut Bang Noel, bagi banyak orang pembicaraan tentang perkawinan kerap dianggap cukup menakutkan, hingga sedapat mungkin dihindari. Padahal, seharusnya tetap dipikirkan bahwa pacaran merupakan tahapan yang berkesinambungan. Artinya, tahap yang satu harus diikuti oleh tahap lain yang lebih intens.

Sementara di tahap ini masing-masing pihak dituntut untuk berpikir berdua bagi kepentingan mereka sebagai tim yang terikat. Termasuk evaluasi sampai sejauh mana hubungan mereka, apa tujuan mereka dan bisakah tujuan tersebut dicapai dengan kondisi masing-masing.

Dari pembicaraan semacam ini akan semakin terkumpul masukan-masukan yang senantiasa baru guna menambah kualitas pengenalan masing-masing pihak terhadap pasangan. Tentu saja untuk bisa masuk ke tahap demi tahap secara intens, keterbukaan/kejujuran jelas amat dituntut. Bukan cuma hal-hal yang menyenangkan, tapi juga hal-hal menyedihkan/menakutkan mesti sudah harus berani diungkap sekaligus dibicarakan sebelum perkawinan.

Selama pacaran inilah, tegas Bang Noel, pentingnya mulai menumbuhkam kesediaan berbagi. Hingga ketika kita tahu pasangan bersedih saat membicarakan hal-hal tertentu, paling tidak kita akan berusaha menjaga tindakan dan pembicaraan agar tidak membuatnya sedih. Bukankah orang yang mencintai pasangan akan selalu mengutamakan kebahagiaan pasangannya dan kebahagiaan bersama?

Modal Kepercayaan

Dengan demikian, tandas Bang Noel, mereka yang telah sekian lama pacaran namun perkawinannya bubar hanya dalam waktu singkat, boleh dibilang tidak melalui proses belajar yang semestinya. Semisal hanya sebatas aktivitas dari sisi-sisi yang menyenangkan. Gaul di kafe atau menikmati bentuk kehidupan tertentu yang dirasa serba pas/sejalan, contohnya. “Padahal, itu, kan, baru sebagian kecil dari lapis demi lapis lain yang mesti dilalui.”

Untuk bisa ber-sharing hal-hal yang menyedihkan, misalnya, dibutuhkan kepercayaan dan kedekatan emosional tertentu. Konkretnya, orang, kan, enggak mungkin berani curhat pada orang lain yang tidak dipercayainya. Nah, selama masa pacaran itulah kedua belah pihak diharapkan bisa mengembangkan rasa percaya kepada pasangannya.

Rasa percaya baru akan tumbuh kalau ada konsistensi dan kesediaan untuk mendengar. Dengan begitu, bila seseorang sudah membuka diri namun pasangannya ternyata tidak bisa dipercaya, yang bersangkutan akan merasa dimanipulasi.

Sayangnya, tutur Bang Noel,tiap individu cenderung mengalami cinta buta akibat terkena halo efect. Artinya, saat tengah jatuh cinta, semua jadi terlihat indah yang membuatnya kerap berpikir pendek dan emosional. Sementara masukan dari orang lain mengenai keburukan pasangan selalu ditanggapi secara negatif. Semisal, “Ah, sirik aja, lu!”

Tak heran kalau objektivitas dan sisi-sisi penting yang perlu diketahui mengenai pasangan jadi terlewatkan. Hal-hal semacam inilah yang kemudian membuat orang tidak mencoba mengenali pasangannya lebih jauh alias cukup puas dengan hal-hal bersifat lahiriah/di permukaan saja.

Jalani Dan Nikmati Kebersamaan

Pada dasarnya, kata Bang Noel, tidak ada patokan baku mengenai berapa lama sebaiknya tiap pasangan melalui masa pacaran. Yang pasti, selama masa pacaran dan juga sepanjang perkawinan, kedua belah pihak harus menemukan dan menjalani hal-hal baru secara bersama-sama. Konkretnya, bersama-sama menikmati proses yang membuat mereka jadi kaya secara emosional karena bersama-sama membangun suatu dunia yang membuat mereka fit in.

Bukan yang satu memaksa yang lain masuk ke dalam dunianya. Serta bukan pula menenggelamkan diri ke dalam dunia pasangannya sedemikian rupa secara total sampai kehilangan keakuannya. Bila ini yang terjadi, dunia perkawinan menjadi dunia yang serba membingungkan bagi kedua belah pihak dan membuat mereka merasa tidak mampu bertahan.

Hargai Privacy Pasangan

Kalau kita bisa mengenal masa lalunya, ungkap Bang Noel,berarti kita lebih mengenalnya secara utuh. “Kendati jika pasangan tak mau membuka diri, ya, kita sama sekali tak boleh memaksanya. Sebagian orang justru ingin melupakan dan memendam masa lalunya. Soalnya, kalau hal-hal di masa lalu tadi diangkat lagi ke permukaan, baginya akan kembali terasa menyakitkan.”

Dengan begitu, sambungnya, kita harus menghargai privacy dan keputusan pasangan untuk menyimpan rahasia pribadinya. “Biarkan semuanya berjalan secara alamiah alias jangan pernah berusaha mengorek keterbukaan pasangan dengan segala macam cara. Toh, kalau hubungan sudah diwarnai oleh kepercayaan, kesediaan untuk membuka diri akan muncul dengan sendirinya.”

Waspadai Yang Terbiasa Berkelit

Terhadap pasangan yang selalu bersikap defensif dan terbiasa berkelit, tegas Bang Noel, kita harus berani mempertanyakan kelanjutan hubungan. Jangan sampai dibebani rasa malu hanya karena setelah sekian lama bersama.

Soalnya, sentra orang seperti ini tak lain adalah dirinya sendiri dan bukan pasangannya. Biasanya mereka tidak mau menghadapi kenyataan. “Jadi, alih-alih mau mengakui kesalahan diri, mereka malah lebih suka mencari-cari kesalahan orang lain. Dalam hal ini kesalahan pasangannya.”

Th. Puspayanti.I

Sumber : www.kompas.com

Maap Lahir Batin yaa…

Ada maaf…pasti ada salah…

Mumpung ada kesempatan maaf-maafan…maafin aku yah….

Nikah Tanpa Wali Bagi Wanita Dewasa (Studi Fikih Abu Hanifah)

Sebagaimana kita ketahui, bahwa hukum yang berlaku di indonesia mensyaratkan adanya wali dalam suatu pernikahan. Hal ini didasarkan pada ketentuan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dalam sejarahnya, Kompilasi Hukum Islam dirumuskan dengan memperhatikan iklim fikih ke-Indonesiaan yang memang lebih banyak mengadopsi dari fikih Syafi’i. Sementara ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam ini tidak sependapat dengan konsep Abu Hanifah.

Dalam Fikih Abu Hanifah terdapat Konsep Wali nikah yang kontradiktif dengan jumhur ulama fikih, yaitu “la yustararul waliyu fi sihhatin nikah al-balighah.” maksudnya adalah bolehnya nikah tanpa wali bagi wanita yang sudah dewasa, bahkan lebih lanjut dijelaskan bahwa seorang wanita dewasa boleh melakukan akad nikahnya sendiri tanpa perantara walinya.

Adapun argumentasi yang diajukan oleh Abu Hanifah adalah:

1. Q.S. Al- Baqarah (2): 230; “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itutidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain….” Dan Q.S. Al- Baqarah (2): 234 yakni “…Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali)membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut…

Dalam ketiga ayat tersebut, akad dinisbahkan kepada perempuan, hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak melakukan pernikahan secara langsung (tanpa wali).

2. Perempuan bebas melakukan akad jual-beli dan akad-akad lainnya, karena itu ia bebas melakukan akad nikahnya. Karena tidak ada perbedaan hokum antara akad nikah dengan akad-akad lainnya.

3. Hadis-hadis yang mengaitkan sahnya perkawinan dengan ijin wali bersifat khusus, yaitu ketika sang perempuan yang akan menikahkan dirinya itu tidak memenuhi syarat untuk bertindak sendiri, misalnya karena masih belum dewasa atau tidak memiliki akal sehat.

Hal ini berdasarkan Hadits Nabi : ”Orang-orang yang tidak mempunyai jodoh lebih berhak atas perkawinan dirinya daripada walinya, dan gadis itu dimintakan persetujuannya untuk dinikahkan dan tanda ijinnya ialah diamnya (Hadits Bukhari Muslim).

Meskipun terdapat pendapat yang membolehkan perempuan dewasa dan memiliki akal sehat untuk melakukan pernikahan sendiri, namun pendapat ini bukanlah pendapat yang diterima dan berlaku secara umum di dunia muslim. Di Indonesia, misalnya, dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bahwa wali merupakan salah satu rukun perkawinan, dan tanpa wali perkawinan tidak sah.

Akan tetapi fenomena di masyarakat, banyak ditemukan kasus mengenai perkawinan yang tidak sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam. Ternyata seseorang yang mau melakukan perkawinan tidak semua prosesnya berjalan dengan lancar. Terutama ketika seorang laki-laki mau menikahi seorang wanita lantas tidak disetujui oleh orang tuanya yang akan betindak sebagai walinya. Akibatnya banyak ditemukan kasus di masyarakat seperti halnya kawin paksa, kawin lari, seks pra nikah dan lain sebagainya.

Konsep fikih Abu Hanifah dengan Kompilasi Hukum Islam dalam membahas mengenai Wali nikah tetap akan berseberangan satu sama lain. Padahal ada beberapa permasalahan yang harus diselesaikan. Jika kita berusaha untuk mencari celah diantara kedua konsep itu mungkin akan kita dapatkan bahwa konsep “nikah tanpa wali” dapat menjadi solusi bagi beberapa kasus yang menyimpang dari ketentuan pasal-pasal KHI, seperti contoh di atas. Tentunya ini hanya khusus pada kasus-kasus tertentu dan dengan syarat tertentu pula.

InspirasiQ

Ketika dunia sudah mulai memperkenalkan produk-produk pemikiran yang semakin menjauhkan manusia dari tuhannya, maka manusia harus mempunyai filter yang kuat dan bersih. Kalau tidak maka kita akan tenggelam dalam provokasinya

Jalanilah hidup ini dengan cinta yang mengalir seperti air. Bila alirannya kecil maka kesegarannya terasa lebih nikmat dan menyegarkan. Dan bila alirannya deras jagalah diri anda jangan sampai terbawa arus.

Jangan berhenti tuk pintar selagi kesempatan itu masih ada

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Banyak hal yang sering menjadi perbincangan orang muslim ketika Ramadhan tiba. Salah satunya mengenai jumlah rakaat dan cara pelaksanaan shalat tarawih. Terutama bagi mereka yang masih ragu mengenai jumlah rakaat shalat tarawih mana yang lebih afdhol untuk di ikuti. Di tempat tinggal saya, tarawih yang dilakukan berjumlah 23 rakaat dan 11 rakaat, yang sebelas rakaat ini terkadang ada yang melakukannya hanya dengan 2 salam saja yakni 4 rakaat 4 rakaat.

Para Ulama mengatakan bahwa, tidak ada satu pun hadits yang shahih yang menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasululullah SAW. Bahkan para ahli hadits mengatakan bahwa semua riwayat hadits yang menyatakan tentang jumlah bilangan rakaat shalat tarawihnya Rasulullah SAW adalah hadits yang sangat lemah.

Kalau pun ada yang mengatakan 11 rakaat, 13 rakaat, 20 atau 23 rakaat, semua tidak didasarkan pada hadits yang tegas. Semua angka-angka itu hanyalah tafsir semata. Tidak ada hadits yang secara tegas menyebutkan angka rakaatnya secara pasti.

Misalanya hadis yang diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa “Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat”. (HR. Al-Bukhari)

Namun hadis dari Aisyah ra. ini bukanlah batasan maksimal bahwa shalat tarawih itu tidak boleh ditambah, karena hadis tersebut sekedar menceritakan tentang jumlah rakaat yang selalu dikerjakan oleh Nabi SAW dan jika nabi SAW mengerjakan shalat Beliau selalu melaksanakannya secara kontinyu, sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah ra. Sedangkan Nabi SAW sendiri tidak pernah membuat batasan tertentu tentang jumlah rakaat shalat tarawih.

Pelaksanaan Rakaat Shalat Tarawih
• Shalat sebanyak 13 rakaat dimulai dengan dua rakaat yang ringan kemudian dua rakaat yang panjang sekali kemudian dua rakaat yang lebih ringkas dari sebelumnya dan demikian seterusnya hingga jumlah 12 rakaat lalu witir.
• Shalat 13 rakaat, dimulai dengan delapan rakaat dan bersalam setiap dua rakaat kemudian witir dengan 5 rakaat dan tidak duduk dan tidak pula salam kecuali pada rakaat ke-5.
• Shalat sebanyak 11 rakaat ber-salam setiap dua rakaat kemudian witir dengan satu rakaat.
• Shalat sebanyak 11 rakaat, mengerjakan 4 rakaat lalu salam kemudian 4 rakaat lalu salam kemudian witir dengan 3 rakaat.
• Shalat sebanyak 11 rakaat yaitu mengerjakan 8 rakaat dengan tidak duduk kecuali pada rakaat ke-8 lalu membaca tasyahud dan shalawat kepada nabi kemudian berdiri tanpa salam lalu witir dengan satu rakaat kemudian salam maka jumlahnya sembilan lalu ditambah 2 rakaat dalam keadaan duduk.
• Shalat sebanyak sembilan rakaat, yaitu enam rakaat dan tidak duduk kecuali pada rakaat ke-6 lalu membaca tasyahud dan membaca shalawat lalu berdiri tanpa salam lalu witir dengan satu rakaat kemudian salam, maka jumlahnya tujuh lalu ditambah dua rakaat dalam keadaan duduk.

Sedangkan witir yang dikerjakan dengan tiga rakaat, maka tidak boleh duduk pada rakaat ke dua lalu salam pada rakaat ke-3, karena cara tersebut sama dengan shalat Magrib, padahal nabi SAW bersabda:
“Dan jangan kalian serupakan (shalat witir) dengan shalat magrib”. (HR. Ath Thohawy)
karena itu barang siapa yang berwitir dengan tiga rakaat boleh dilakukan dengan dua cara, yakni dengan bersalam antara rakaat ke-2 dan rakaat ke-3 atau tidak duduk kecuali pada rakaat ke-3.

Jadi shalat tarawih boleh dikerjakan dengan berbagai cara sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi SAW dan cara yang paling umum adalah mengerjakannya dengan dua rakaat dua rakaat kemudian ditutup dengan witir.

Yang penting sholatnya dikerjakan dengan khusyuk. Tidak tergesa-gesa atau “ngebut.” Sebab saya sering melihat imam yang mampu membaca surat Al Fatihah dalam 1 tarikan nafas saking
cepatnya.

Di lain sisi, kalau imamnya membaca surat yang teerlalu panjang dan dengan bacaan yang sangat pelan maka makmum pun jadi berkurang. Jadi bacalah surat yang sedang-sedang saja dan dengan bacaan tartil yang sedang-sedang pula.

Semoga Allah menerima ibadah kita
Wallahu a’lam bis sawab

Mitos Larangan Melangkahi Kakak Perempuan Dalam Pernikahan

Ada ga yang punya pengalaman di langkahi adik? Nah…ini terjadi padaku. Adikku laki-laki. Pada bulan Juni 2008 lalu adikku memutuskan untuk bertunangan. Dan rencananya pernikahan dilangsungkan setelah Hari Raya Qurban. Lantas bagaimana denganku???

Pada sebagian masyarakat, memang merupakan sesuatu yang tabu jika adik melangkahi kakaknya dalam pernikahan. Bahkan ada yang baru dibolehkan menikah setelah 1 tahun kakaknya menikah. Hal ini terjadi pada temanku yang tinggal di salah satu daerah di Pasuruan. Dia harus menunggu selama 1 tahun setelah kakaknya menikah, padahal dia lebih dulu punya pasangan daripada kakaknya.

Beberapa masyarakat yang lain, mengatakan bahwa melangkahi kakak dalam pernikahan itu boleh-boleh saja, tetapi ada tradisi adat yang harus dilalui oleh sang kakak. Seperti yang pernah aku alami. Saat balesan pertunangan adikku (keluarga si perempuan datang ke keluarga laki-laki), aku harus melewati rangkaian tradisi yang menurutku cukup unik. Ketika sang calon perempuan memasuki gerbang rumah, aku disuruh menggigit janur (daun kelapa) 3x. Kemudian janurnya dipecutkan padaku 3x. tentu saja yang melakukan ini adalah orang tuaku (ibu), setelah itu janur yang tadi dipakai disimpan di kolong tempat tidurku. Katanya biar jodohku cepat melamarku. Amin….

Ada juga tradisi lain, tapi tak jelas. Karna hanya dari mulut ke mulut saja. Aku jadi teringat akan penelitan yang dilakukan temanku tentang tradisi ngelangkahi nikah yang dikaitkan dengan pandangan Islam di suatu daerah. Tapi, hasilnya aku tidak tahu pasti karena aku tidak pernah membaca penelitiannya.

Dalam islam memang tidak ditemukan dalil yang melarang seorang adik melangkahi kakaknya dalam suatu pernikahan. Jangankan melarang, dalil yang membahas permasalahan itupun tidak ada. Kalau kita melihat lebih jauh larangan itu hanya sebuah mitos yang berasal dari sebuah ketakutan orang tua jika adik melangkahi kakak, maka kakaknya bakalan jadi perawan tua atau sulit mendapat jodoh. Mungkin saja hal ini pernah terjadi pada masa lalu, sehingga tercipta sebuah rangkaian ritual yang harus dilalui oleh sang kakak ataupun sang adik. Padahal jodoh itu ada ditangan Allah dan tiap-tiap makhluk yang dilahirkan sudah punya jodoh masing-masing.

So…??? Percaya ga percaya tetap saja tradisi itu harus aku jalani. Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan agama. Yah namanya juga usaha. Untuk saat ini usahanya adalah melestarikan dan menghargai tradisi yang ada. Tapi??? Bukan tradisi yang aku permasalahkan!!! Bukan pula agama yang aku pikirkan!!! Tapi perasaan.

Secara psikologis, awalnya aku tertekan dengan keputusan adikku. Bukan aku takut mitos bahwa aku akan jadi perawan tua. Tapi, lebih dari sekedar itu. Aku yang awalnya masih belum berfikir untuk menikah, saat itu juga dipaksa untuk berfikir kapan aku akan menikah? Masalah pasangan?aku sudah punya. Tapi aku tak bisa memaksanya untuk memberi kepastian padaku.

Dalam perenunganku yang panjang, aku berusaha mencari celah. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa jodoh sudah Allah yang mengatur. Mungkin memang adikku lebih dulu ditunjukkan siapa jodohnya. Tapi tidak aku. Bahkan ketika perasaan takut melanda, takut jika ternyata pasanganku meninggalkan aku, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa Allah pasti akan memberiku jodoh yang lain yang lebih baik.

Hingga akhirnya sedikit demi sedikit aku bisa menerima keputusan ini dengan lapang dada. Bagiku larangan melangkahi kakak perempuan dalam pernikahan adalah sebuah mitos yang salah. Setidaknya itulah yang ada dibenakku.

PIJAT WAJAH

  • Sebelumnya bersihkan wajah dengan pembersih wajah & penyegarnya. Kemudian poleskan pelembab di seluruh wajah dan leher dengan gerakan menyapu ke atas.
  • Di pagi hari, cubit pelan daerah tulang pipi sampai garis rahang.
  • Di malam hari, lakukan gerakan melingkar dengan garis telunjuk. Tekan selama beberapa detik pada daerah yang tegang. Biasanya pada sudut dalam dan luar mata serta pangkal alis.
  • Tepukkan 3 jari tangan diseluruh wajah dengan berirama. Lakukan mulai dari dagu bergerak perlahan ke garis rahang dan pipi, kea rah atas sampai ke bawah mata, tapi hindari daerah sekitar mata.
  • Gunakan 2 jari untuk memijat daerah dahi. Mulai dari batas alis sampai ke garis rambut.
  • Sentuhan terakhir dengan menempatkan kedua tangan bersama-sama di samping hidung dan mulut lalu usapkan telapak tangan kearah seluruh wajah beberapa kali.

Pagi hari : Sebaiknya lakukan gerakan cepat untuk membangkitkan semangat

Malam hari      : Sebaiknya gerakan dilakukan lebih lambat dan rileks

My Inspirasi

Kalau seseorang merasa berada

Di sebuah jalan buntu

Dimana tak satu langkahpun berharga

Dan ketika sgalanya terasa salah

Maka satu-satunya kesempatan yang paling indah adalah

Memulai semua dari awal

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.